Para santri, lulusan pesantren
serta orang-orang Islam di
Indonesia, pasti banyak yang
tahu tentang sodomi dan lesbi
yang umum terjadi di
pesantren, bisa tahu dari
pengalaman pribadi, melihat
sendiri, atau mendapat
informasi dari orang lain.
Memang sodomi, lesbi, atau
kekerasan seksual tidak pernah
diajarkan di pesantren, bahkan
Islam konon mengharamkan
homoseksualitas, namun karena
Al-Quran adalah kitab yang
sangat multitafsir, beberapa
ayatnya ada yang terkesan
setuju dengan perilaku
homoseksual, misalnya yang
menguraikan tentang pelayan
lelaki muda belia yang muda
selamanya, yang melayani para
mukmin di surga.
Istilah yang biasa digunakan
kalangan pesantren untuk
menyebut perilaku sodomi
ialah mairil.
Di media massa sering kita
temukan berita sodomi,
perkosaan, serta pelecehan
seksual yang terjadi di
pesantren-pesantren khusus
putra maupun khusus putri,
namun, perilaku sodomi, lesbi,
atau kekerasan seksual di
pesantren ibarat puncak sebuah
gunung es, hanya sedikit
puncaknya yang terlihat,
sebagian besar tersembunyi
dalam lautan. Banyak kasus
yang tidak dilaporkan, karena
yang menjadi korbannya malu
atau takut untuk
menceritakannya. Selama
ratusan tahun pesantren eksis di
Indonesia, adalah hal wajar, bila
sudah ribuan bahkan jutaan
santri yang pernah melakukan
atau menjadi korban sodomi,
perkosaan, atau pelecehan
seksual.
Di pesantren, para santri dalam
jumlah besar tinggal di satu
tempat, dan seringkali harus
tidur berdesakan dan mandi
bersama-sama sedangkan
banyak santri yang sedang
mengalami masa-masa
pubertas. Sedangkan pesantren
membatasi sangat ketat
pergaulan antara santri putra
dengan santri putri atau antara
santri dengan orang luar.
Pembatasan interaksi dengan
lawan jenis sembari berinteraksi
secara intens dengan sesama
jenis ini dapat berpotensi
memicu santri yang tidak
menemukan penyaluran untuk
melakukan perilaku seksual
yang menyimpang. Sangat
mungkin dari ratusan santri,
satu atau dua orang memang
memiliki kelainan seksual,
sehingga mereka dapat
mempengaruhi dan merusak
temannya. Lagipula agama
Islam sering membahas
masalah seksual dengan sangat
detail, misalnya tentang mandi
junub, dan sebagainya, sehingga
bisa saja ada santri yang
semakin terobsesi dengan seks.
Juga karena agama Islam lebih
mengutamakan detail-detail
ibadah seperti cara shalat yang
benar, cara istinjak yang benar,
bagaimana berjimak yang
islami, dan sebagainya, sehingga
kurang atau bahkan tidak
memperhatikan penumbuhan
moral para santrinya. Yang
penting adalah perbuatan
dilakukan sesuai dengan
perintah Al-Quran sembari
mencontoh perilaku nabi
Muhammad melalui Al-Hadith
dan Sirah Nabi, bermoral atau
tidak tidak perlu
dipermasalahkan, misalnya
menghalalkan darah yang
menghina Islam, dan tindakan
kekerasan lainnya yang
dilakukan atas nama agama
Islam. Berbeda dengan agama
Kristen, Buddha atau lainnya,
yang mengutamakan moral
manusia dibanding ritual
agama, mengutamakan kasih
dan golden rule.
Para santri yang pernah
melakukan mairil dan
sebagainya, akhirnya setelah
lulus ada yang menjadi tokoh
masyarakat, pejabat negara,
kyai dan sebagainya, mereka
menikah dan mempunyai anak.
Ada yang memimpin atau
mendirikan pesantren.
Karena itu, berita pencabulan
dan kekerasan seksual yang
dilakukan oleh kyai kepada para
santrinya tidak terlalu
mengagetkan, mungkin saja kyai
tersebut dulunya adalah korban
kekerasan seksual menyimpang,
yang akhirnya malah menjadi
pelaku, karena keenakan.
Bahkan, Verry Idham
Heryansyah alias Ryan juga
pernah menjadi santri dari salah
satu pesantren terkenal di
Jombang.
Memang, bukan hanya tokoh
agama Islam saja, yang
melakukan perbuatan cabul,
pendeta Kristen dan pastor
katolik pun ada yang berbuat
cabul. Namun, bedanya, di
dalam agama Kristen tidak ada
ayat dalam kitab sucinya yang
dapat dipakai untuk
membenarkan perbuatan sesat
mereka itu. Bahkan, secara
jumlah, perbuatan cabul yang
terekspos oleh media massa
umumnya adalah yang
dilakukan oleh guru ngaji, ulama
dan kyai, kasus-kasus yang
melibatkan pendeta dan pastor
jauh lebih sedikit, di Indonesia
maupun di luar negri.
serta orang-orang Islam di
Indonesia, pasti banyak yang
tahu tentang sodomi dan lesbi
yang umum terjadi di
pesantren, bisa tahu dari
pengalaman pribadi, melihat
sendiri, atau mendapat
informasi dari orang lain.
Memang sodomi, lesbi, atau
kekerasan seksual tidak pernah
diajarkan di pesantren, bahkan
Islam konon mengharamkan
homoseksualitas, namun karena
Al-Quran adalah kitab yang
sangat multitafsir, beberapa
ayatnya ada yang terkesan
setuju dengan perilaku
homoseksual, misalnya yang
menguraikan tentang pelayan
lelaki muda belia yang muda
selamanya, yang melayani para
mukmin di surga.
Istilah yang biasa digunakan
kalangan pesantren untuk
menyebut perilaku sodomi
ialah mairil.
Di media massa sering kita
temukan berita sodomi,
perkosaan, serta pelecehan
seksual yang terjadi di
pesantren-pesantren khusus
putra maupun khusus putri,
namun, perilaku sodomi, lesbi,
atau kekerasan seksual di
pesantren ibarat puncak sebuah
gunung es, hanya sedikit
puncaknya yang terlihat,
sebagian besar tersembunyi
dalam lautan. Banyak kasus
yang tidak dilaporkan, karena
yang menjadi korbannya malu
atau takut untuk
menceritakannya. Selama
ratusan tahun pesantren eksis di
Indonesia, adalah hal wajar, bila
sudah ribuan bahkan jutaan
santri yang pernah melakukan
atau menjadi korban sodomi,
perkosaan, atau pelecehan
seksual.
Di pesantren, para santri dalam
jumlah besar tinggal di satu
tempat, dan seringkali harus
tidur berdesakan dan mandi
bersama-sama sedangkan
banyak santri yang sedang
mengalami masa-masa
pubertas. Sedangkan pesantren
membatasi sangat ketat
pergaulan antara santri putra
dengan santri putri atau antara
santri dengan orang luar.
Pembatasan interaksi dengan
lawan jenis sembari berinteraksi
secara intens dengan sesama
jenis ini dapat berpotensi
memicu santri yang tidak
menemukan penyaluran untuk
melakukan perilaku seksual
yang menyimpang. Sangat
mungkin dari ratusan santri,
satu atau dua orang memang
memiliki kelainan seksual,
sehingga mereka dapat
mempengaruhi dan merusak
temannya. Lagipula agama
Islam sering membahas
masalah seksual dengan sangat
detail, misalnya tentang mandi
junub, dan sebagainya, sehingga
bisa saja ada santri yang
semakin terobsesi dengan seks.
Juga karena agama Islam lebih
mengutamakan detail-detail
ibadah seperti cara shalat yang
benar, cara istinjak yang benar,
bagaimana berjimak yang
islami, dan sebagainya, sehingga
kurang atau bahkan tidak
memperhatikan penumbuhan
moral para santrinya. Yang
penting adalah perbuatan
dilakukan sesuai dengan
perintah Al-Quran sembari
mencontoh perilaku nabi
Muhammad melalui Al-Hadith
dan Sirah Nabi, bermoral atau
tidak tidak perlu
dipermasalahkan, misalnya
menghalalkan darah yang
menghina Islam, dan tindakan
kekerasan lainnya yang
dilakukan atas nama agama
Islam. Berbeda dengan agama
Kristen, Buddha atau lainnya,
yang mengutamakan moral
manusia dibanding ritual
agama, mengutamakan kasih
dan golden rule.
Para santri yang pernah
melakukan mairil dan
sebagainya, akhirnya setelah
lulus ada yang menjadi tokoh
masyarakat, pejabat negara,
kyai dan sebagainya, mereka
menikah dan mempunyai anak.
Ada yang memimpin atau
mendirikan pesantren.
Karena itu, berita pencabulan
dan kekerasan seksual yang
dilakukan oleh kyai kepada para
santrinya tidak terlalu
mengagetkan, mungkin saja kyai
tersebut dulunya adalah korban
kekerasan seksual menyimpang,
yang akhirnya malah menjadi
pelaku, karena keenakan.
Bahkan, Verry Idham
Heryansyah alias Ryan juga
pernah menjadi santri dari salah
satu pesantren terkenal di
Jombang.
Memang, bukan hanya tokoh
agama Islam saja, yang
melakukan perbuatan cabul,
pendeta Kristen dan pastor
katolik pun ada yang berbuat
cabul. Namun, bedanya, di
dalam agama Kristen tidak ada
ayat dalam kitab sucinya yang
dapat dipakai untuk
membenarkan perbuatan sesat
mereka itu. Bahkan, secara
jumlah, perbuatan cabul yang
terekspos oleh media massa
umumnya adalah yang
dilakukan oleh guru ngaji, ulama
dan kyai, kasus-kasus yang
melibatkan pendeta dan pastor
jauh lebih sedikit, di Indonesia
maupun di luar negri.

Comments
Post a Comment